Dewi Gangga: Ajaran Agama Hindu
ooredoo

Thursday, July 24, 2014

BAB I - SANG JATI DIRI SEBAGAI SAKSI DI DALAM SEMUANYA

BAB I - SANG JATI DIRI SEBAGAI SAKSI DI DALAM SEMUANYA

Silahkan sesuaikan nada chord dengan suara anda

BAB I
SANG JATI DIRI SEBAGAI SAKSI DI DALAM SEMUANYA


Janaka berucap :
1. Ajarilah daku, wahai Presha (Guru Utama), bagaimana caranya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan? Bagaimana (darimana) datangnya kebebasan (spiritual, dari duniawi ini)?, bagaimana mencapai pemasrahan itu?
BAB II - SANG JATIDIRI YANG MENAKJUBKAN

BAB II - SANG JATIDIRI YANG MENAKJUBKAN

Silahkan sesuaikan nada chord dengan suara anda

BAB II
SANG JATIDIRI YANG MENAKJUBKAN


Janaka Berucap:
1. Oh! Aku adalah yang tak ternoda, tenang, Kesadaran Murni dan jauh di atas alam. Lama sekali Aku menghabiskan hari-hariKu yang terkacau-balau oleh kekalutan pikiran.

2. Aku Yang Maha Tunggal, menyinari raga ini dan mengungkapkan alam-semesta ini. Oleh karena itu, PunyaKu seluruh isi alam-semesta ini, atau sebenarnya tiada sesuatupun adalah milikku.

3. Oh, setelah menanggalkan alam-semesta beserta raga, Aku pada saat ini mampu menyaksikan Sang Jati Diri, Yang Maha Kuasa melalui ajaran-ajaran berbagai guru yang teramat piawai.
BAB III - SANG JATI DIRI DI DALAM SEMUANYA

BAB III - SANG JATI DIRI DI DALAM SEMUANYA

Silahkan sesuaikan nada chord dengan suara anda

BAB III
SANG JATI DIRI DI DALAM SEMUANYA, SEMUANYA DI DALAM SANG JATI DIRI


Ashtavakra berucap :
1. Setelah mengetahui bahwa Sang Jati Diri sifatnya yang sejati adalah Yang Maha Tak Terhancurkan dan Tunggal, bagaimana mungkin dikau, yang telah faham akan Sang Jati Diri ini dan yang telah memiliki Kebijaksanaan yang bersifat manunggal, berkeinginan (masih memiliki hasrat) untuk menumpuk kekayaan?

2. Aduh! Ibarat, dikarenakan kekurang-pengetahuan, sebuah kerang laut dianggap sekeping perak, demikian juga, akibat kekurang-pengetahuan akan Sang Jati Diri, terdapat keterikatan kepada indra-indra duniawi yang penuh dengan ilusi ini.

3. Setelah menyadari, “Aku adalah itu”, yang darinya seisi alam-semesta ini tercipta ibarat ombak lelautan, mengapa dikau lari kesana-kemari ibarat seekor binatang yang dilanda kepanikan?
BAB IV - KEAGUNGAN TAHAP KESADARAN

BAB IV - KEAGUNGAN TAHAP KESADARAN

Silahkan sesuaikan nada chord dengan suara anda

BAB IV
KEAGUNGAN TAHAP KESADARAN


Janaka berucap:
1. Oh! Menakjubkan! Seseorang yang berpengetahuan, yang telah sadar akan Sang Jati Diri, yang memainkan peranan kehidupan ini, tidak dapat dibandingkan dengan seekor binatang penarik beban yang masih terselimuti oleh beban duniawi ini.

2. Oh! Menakjubkan! Seseorang Yogin tidak beriang-gembira pada tahap ini ….. padahal dewa Indra dan dewa-dewa lainnya sangat berhasrat untuk memasuki tahap ini, tetapi (sia-sia usaha mereka) tak pernah mencapainya.

3. Nyata sebenarnya, bahwa hati sanubari yang telah sadar akan Sang Jati Diri tak tersentuh oleh kebajikan maupun kebatilan, ibarat ruang angkasa (akasa) yang tak terkontaminasi oleh asap, walau asap itu terlihat hadir di angkasa.
BAB V - EMPAT UPAYA PENGHACURAN EGO

BAB V - EMPAT UPAYA PENGHACURAN EGO

Silahkan sesuaikan nada chord dengan suara anda

BAB V
EMPAT UPAYA PENGHACURAN EGO

Ashtavakra berucap:
1. Dikau tidak memiliki hubungan dengan apapun juga sejauh ini. Sejati seperti adanya Dikau, lalu apa yang ingin Dikau tanggalkan (pasrahkan)? Setelah melarutkan Sanghatha (5 indra, sang pikiran, budhi dan ego) masuklah ke dalam laya, tahap penghancuran (peleburan) segalanya.

2. Alam-semesta timbul dariMu, ibarat gelembung dari lelautan, dengan demikian satukan lagi (gabungkan) Sang Jati Diri yang bersifat non-dualistik ini. Dengan cara ini, masuklah ke dalam laya-tahap penghancuran segala-galanya.
BAB VI - YANG MAHA KUASA SANG JATI DIRI

BAB VI - YANG MAHA KUASA SANG JATI DIRI

Silahkan sesuaikan nada chord dengan suara anda

BAB VI
YANG MAHA KUASA SANG JATI DIRI


Janaka berucap:
1. Tak terterangkan, ibarat kekosongan (Akasa) Aku ini; dunia fenomena ini ibarat tempayan yang terbatas; ini adalah “kebenaran sejati”. Oleh karena itu tidak ada yang harus dipasrahkan (ditanggalkan), atau ditrima atau dihancurkan.

2. Aku adalah ibarat samudra dan alam-semesta adalah ibartat gelombang: Ini adalah “ilmu-pengetahuan sejati” lalu apa yang harus dipasrahkan, atau diterima atau dihancurkan?
BAB VII - SANG JATI DIRI YANG PENUH DENGAN KEHENINGAN

BAB VII - SANG JATI DIRI YANG PENUH DENGAN KEHENINGAN

Silahkan sesuaikan nada chord dengan suara anda

BAB VII
SANG JATI DIRI YANG PENUH DENGAN KEHENINGAN

Janaka berucap :
1. Di dalam-Ku, samudra yang tak bertepi, kulit luar alam-semesta, bergerak kesana-kemari, tertiup oleh angin dari sang pikirannya sendiri (Pikiran Universal). Aku tidak sabar (artinya Aku sabar dan tak terusik oleh semua fenomena ini).

2. Di dalam Ku, samudra tak terbatas, (Ku) biarkan gelombang-gelombang duniawi untuk timbul dan tenggelam secara spontan. Aku tidak mengalami kelebihan maupun kekurangan oleh fenomena-fenomena ini dan akibatnya.
BAB VIII - KETERIKATAN DAN KEBEBASAN

BAB VIII - KETERIKATAN DAN KEBEBASAN

Silahkan sesuaikan nada chord dengan suara anda

BAB VIII
KETERIKATAN DAN KEBEBASAN


Ashtavakra berucap:
1. Adalah merupakan sebuah ikatan sewaktu sang pikiran menginginkan sesuatu atau menderita karena sesuatu; menolak atau menerima sesuatu: merasa bahagia atau merasa gusar karena sesuatu.

2. Kebebasan tercapai sewaktu sang pikiran tidak menginginkan sesuatu atau tidak menderita karena sesuatu; tidak menolak atau menerima, tidak merasa bahagia atau tidak merasa gusar karena sesuatu)
BAB IX - BERSIKAP TANPA PILIH KASIH

BAB IX - BERSIKAP TANPA PILIH KASIH

Silahkan sesuaikan nada chord dengan suara anda

BAB IX
BERSIKAP TANPA PILIH KASIH

Ashtavakra berucap :
1. Siapakah yang memiliki konflik-konflik kewajiban yang harus dilakukan dan yang tidak harus dilakukan, dan siapakah yang memiliki sifat-sifat dualistik yang saling bertentangan? Bilakah semua ini akan berhenti? Berhenti untuk siapa? Setelah bertanya secara lengkap, menganggap se,ua ini secara sama-rata dan tanpa pilih kasih kepada dunia ini (dan segala fenomena di dalamnya), berubahlah (dikau) menjadi tanpa berkeinginan dan membaktikan diri ke pemasrahan.
BAB X - PELEPASAN DIRI DARI BERBAGAI KEINGINAN

BAB X - PELEPASAN DIRI DARI BERBAGAI KEINGINAN

Silahkan sesuaikan nada chord dengan suara anda

BAB X
PELEPASAN DIRI DARI BERBAGAI KEINGINAN

Astavakra berucap :
1. Setelah mengarahkan “nafsu dan keinginan” dan menganggapnya sebagai musuh, (setelah mepasrahkan) harta-benda yang didapatkan melalui jalan yang tidak benar dan menanggalkan kesucian yang merupakan penyebab nafsu dan harta-benda, bersikaplah sama-rata (tidak memperdulikan) terhadap kesemuanya itu.

2. Anggaplah para sahabat, tanah, kekayaan, rumah-rumah, isteri-isteri dan obyek-obyek yang menghasilkan keuntungan, sebagai sebuah mimpi, atau permainan sulap yang akan berlangsung selama beberapa hari (saja) …. Mungkin tiga atau empat hari (saja).